Aksi Tolak UU TNI: Teriakan Seksisme dari Aparat untuk Perempuan Pers dan Paramedis

Perempuan massa aksi, paramedis, dan pers mahasiswa mendapatkan tindakan represifitas aparat hingga kekerasan seksual dalam aksi “Saatnya Kita

Byllal PPMI DK Malang

Perempuan massa aksi, paramedis, dan pers mahasiswa mendapatkan tindakan represifitas aparat hingga kekerasan seksual dalam aksi “Saatnya Kita Katakan Cukup: Tarik Militer ke Barak Episode II oleh Aliansi Suara Rakjat Malang” pada Minggu (23/3) di Depan Gedung DPRD Kota Malang.

Aksi massa merupakan bentuk respon atas pengesahaan Revisi Undang-Undang TNI Nomor 34 Tahun 2004 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Kamis (20/3/2025).

Sekitar pukul 18.30 WIB, massa aksi dipukul mundur oleh aparat dari arah selatan Gedung DPRD membuat massa berlari menyelamatkan diri dari amukan aparat. Beberapa massa aksi perempuan turut mendapatkan pukulan yang dilakukan oleh aparat, tidak terkecuali perempuan pers mahasiswa dan paramedis.

Salah satu sukarelawan paramedis perempuan yang tak ingin disebutkan namanya itu mendapat pukulan dari aparat kala membantu seorang demonstran yang terserang panic attack

“Aku enggak tahu ya massanya itu kayak gimana di belakang. Aku enggak tahu sama sekali. Aku fokus ke Masnya. Karena Masnya panic attack, aku suruh untuk Masnya napas pelan-pelan,” ujarnya.

“Aku jongkok di situ. Dari belakang, polisi (memukul) kena tongkat di punggung bagian kanan. Terus itu aku nyoba berdiri. Aku nyoba berdiri, kena lagi di bagian punggung bawah,” lanjutnya.

Perempuan tersebut juga mengaku bahwa ketika mengamankan diri bersama relawan paramedis lain, ia mendapat perkataan seksis dari aparat. 

“Waktu itu, polisinya udah teriak-teriak, Lonte kamu, lonte kamu! Ngapain kamu di sini?! Pulang kamu! Motor kamu di mana? Ngapain kamu di sini?! gitu,” terangnya.

Hal tersebut membuatnya tertekan dan takut. “Terus itu aku dalam kondisi tertekan ya, kayak takut gitu, ya. Karena dapat ancaman kayak gitu dan rame banget digeruduk-geruduk polisi. Aku langsung bilang kayak, Oh iya, Pak. Mohon maaf, Pak. Iya, saya pulang, Pak.

Perkataan seksisme dan tindakan represif dari aparat terhadap perempuan juga dialami oleh Risa (nama samaran), anggota Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang yang pada saat itu telah mengalungkan kartu persnya.

Saat berlari menjauhi aparat, ia mendengar perkataan seksis yang dilontarkan aparat. 

“Pas aku di depan mereka (aparat), ada (aparat) yang teriak, Woy arek wedok iku (Woy, anak perempuan itu) terus temennya bilang, Wes arek wedok kakean polah (Anak perempuan banyak tingkah)” jelas Risa.

Pukulan yang begitu keras menggunakan tongkat juga didapatkan Risa di bagian leher dan kaki. 

“Terus malah mukul leherku dari belakang. Kayaknya sih, sengaja banget mukulnya biar aku enggak sadar. Soalnya kenceng banget. Yaudah lari lagi terus kena lagi bagian kaki,” lanjutnya.

Editor: Nurul Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru