Malang — Hujan deras tak menyurutkan langkah puluhan mahasiswa dan aktivis yang berdiri berjejer di depan Balai Kota Malang, Kamis (13/11) sore. Payung-payung hitam milik mereka membentuk barisan senyap, membawa satu tuntutan yang menggema: “Tolak Gelar Pahlawan untuk Soeharto.”
Aksi Kamisan kali ini merespon terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025 yang menetapkan Soeharto dan Sarwo Edhie Wibowo sebagai Pahlawan Nasional. Di mata para peserta, keputusan itu bukan sekadar penghargaan, melainkan bentuk pengaburan sejarah dan pengkhianatan terhadap para korban kekerasan negara.
“Bukan tentang kita yang pernah menjadi korbannya Soeharto, tapi kita menolak lupa, merawat ingat apa yang telah dilakukan oleh Soeharto,” ujar salah satu orator.
Dahir Rendi, salah satu kawan Kamisan Malang, berujar bahwa Soeharto tidak layak menjadi pahlawan nasional lantaran beberapa catatan buruk yang dimiliki mantan presiden kedua Indonesia tersebut.
IIa menyebut, penetapan gelar itu sama saja dengan menghapus jejak kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pada masa Orde Baru. Rendi menilai bahwa negara justru sedang berusaha memutihkan sejarah kelam yang menewaskan ratusan ribu orang dengan tuduhan keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Mereka berdua (Soeharto dan Edhie) memberantas kaum-kaum yang dituduh sebagai PKI di tahun ’65–66. Dan juga, Soeharto menjadi dalang atas penculikan aktivis, serta berbagai berbagai konflik selama Orba,” ungkap Rendi.
Rendi juga menilai keputusan tersebut sarat kepentingan politik. Dalam pandangannya, gelar tersebut lebih menyerupai hadiah politik bagi keluarga besar yang masih berpengaruh di pemerintahan saat ini. Rendi menganggap penetapan gelar itu bukan upaya penghormatan, melainkan legitimasi atas kekuasaan lama yang belum benar-benar tumbang.
“Itu hanya sebatas hadiah yang diberikan oleh menantunya, yaitu Prabowo Subianto. Begitu pula Sarwo Edhie Wibowo yang juga diberi hadiah untuk membahagiakan keluarga Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal mereka berdua merupakan dalang pelaku pembunuhan ataupun genosida yang ada selama 1965 hingga 1966,” tambahnya.
Terakhir, Rendi menyinggung bagaimana narasi pembangunan yang diagungkan Orde Baru sesungguhnya dibangun di atas penderitaan rakyat. Baginya, Soeharto bukan simbol kemajuan, melainkan lambang eksploitasi terhadap manusia dan alam yang memperkaya segelintir elite.
“Padahal selama pembangunan itu, mengorbankan ratusan hingga jutaan nyawa masyarakat Indonesia, belum lagi eksploitasi-eksploitasi alam yang memperkaya Soeharto sendiri,” ujar Rendi
Aksi Kamisan yang bertepatan pula dengan Tragedi Semanggi 1 ini berakhir sekitar pukul 18:30, dengan pernyataan sikap yang tegas yaitu mendesak pemerintah agar mencabut gelar pahlawan untuk Soeharto.
“Tolak-tolak! Tolak Soeharto! Tolak Soeharto Jadi Pahlawan!” Pekik para peserta aksi.
Editor: Karunia Citra





