Sebuah Buku Berdebu dan Puisi Lainnya

Sebuah Buku Berdebu Di dalam kamar pujangga buku-buku berbaris rapi tanpa komando dari siapa pun. Beberapa buku mungkin

Riska Yulistiya/Siar

Sebuah Buku Berdebu

Di dalam kamar pujangga

buku-buku berbaris rapi

tanpa komando dari siapa pun.

Beberapa buku mungkin

tidak pernah selesai dibaca oleh pujangga.

Bahkan, seandainya sang waktu

memperpanjang masa di bumi.

Bukan karena tidak ada waktu

namun begitulah seorang pujangga

tidak ada yang

mengharamkan jika

ia tidak merampungkan bacaan.

Jika buku itu bisa bicara,

betapa takutnya pujangga.

Ia seperti seorang pemuda

yang ditagih

“kapan aku selesai dibaca?”

“kapan kau membersihkanku?”

“kenapa kau tidak pernah menyentuhku lagi?”

“apakah kau sudah tidak sayang lagi denganku?”

Dan pertanyaan lain yang membuatnya

merasa bersalah.

Purbalingga, 2026

Lemari Tua di Kamar

Aku menyimpan baju, celana

dan kenangan masa kecilmu

di setiap rak.

Beberapa guratan di beberapa sisi

memberikan pengajaran hidup

jika luka ada bukan untuk dihilangkan

melainkan untuk sebuah pembelajaran.

Rayap sudah sekian lama mukim di sana

Menyisakan serbuk-serbuk kayu

yang jumlahnya serupa nikmat Tuhanmu

dari dulu hingga kini: Tak terhingga.

Poster-poster yang ditempel

seolah ingin berbicara jika

waktu bukan hanya bisa berjalan

dengan cepat, tapi waktu bisa

berlari sangat kencang.

kau dekati lemari itu,

kau bicara tepat di depan kaca lemari itu,

“aku masih tetap muda, kan?”

“iya, kan?”

Purbalingga, 2026  

Sarung Jingga

Akan aku selimuti

setiap kedinginan yang diciptakan

oleh malam dan hujan.

Koyak pada sarung serupa

mesin waktu yang membawamu

pada setiap peristiwa hidup yang telah dijalani.

Motifnya memang sudah tidak sebagus dulu,

untungnya, ia diasah oleh ibadahmu

yang membuatnya tetap berkilau

saat dipakai.

Bagian yang sudah menipis bukti bahwa

dengkulmu seringkali menghunjam bumi

bersama lima anggota tubuh lain

yang bersujud mesra pada Tuhan.

Sarung jingga itu memang bukan

sehelai kain biasa

ialah persembahan cinta

pada Sang Maha Cinta.

Purbalingga, 2026 

Tas yang Sudah Layu

Dulu, saat pertama kali kuliah

aku mengajakmu ke berbagai penjuru

ke kampus, ke perpus, ke kantin

ke bioskop dan ke tempat-tempat

yang ada di rak ingatan.

Aku isi kau dengan segala macam

mulai dari sandal, sepatu, buku, baju

makalah dan kenangan akan masa lalu.

Kini beberapa bagian dari dirimu sudah layu

beberapa pintal jahitan telah lepas

mengingatkanku jika tak ada ikatan

yang benar-benar abadi kecuali

ikatan dengan-Nya.

Purbalingga, 2026 

Piagam yang Berbicara

Di pojok kamar, ia termenung

menyaksikan pemilik kamar

terkapar oleh bius instagram.

“Jangan mentang-mentang kau sudah mendapatkanku,

lantas kau merebahkan otakmu pada kemalasan.

Aku juga butuh kawan agar aku tak kesepian.”

Hati pemilik kamar sudah tidak peka

lantaran ia sudah jatuh cinta pada sosial media

yang menjanjikan ketenaran semu.

Piagam itu sudah semakin berdebu

persis seperti otak pemilik

kamar lantaran tidak pernah dibersihkan

dengan sapu kreativitas.

Purbalingga, 2026 

Tentang Penulis

Yanuar Abdillah Setiadi

Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru