Hari Perempuan Internasional di Malang: Massa Tuntut Ruang Aman 

Malang — Berbagai elemen mahasiswa dan kolektif gerakan yang tergabung dalam Komite Aksi IWD (International Women’s Day) Malang,

Sarah Andewi/Siar

Malang — Berbagai elemen mahasiswa dan kolektif gerakan yang tergabung dalam Komite Aksi IWD (International Women’s Day) Malang, menggelar aksi Hari Perempuan Internasional pada Minggu (08/03).

Massa memulai long march dari Alun-alun Kota Malang menuju Taman Wilhelmina Kayutangan, lalu berlanjut hingga ke Balaikota Malang.

Dalam aksi tersebut, Komite Aksi IWD memberikan pernyataan bahwa Peringatan Hari Perempuan Internasional bukan sekedar seremoni tahunan. 

Bagi mereka, aksi ini merupakan simbol dari sejarah panjang perjuangan perempuan melawan eksploitasi, ketidakadilan, dan kekerasan yang masih terus terjadi hingga saat ini.

“Kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dipahami sebagai persoalan individual semata. Ia merupakan bagian dari struktur kekuasaan yang mempertahankan dominasi patriarki,” Ucap salah satu perwakilan komite aksi saat membacakan press release di depan Balaikota.

Agatha, selaku Humas Komite Aksi IWD,  menjelaskan bahwa terdapat tiga isu utama yang diangkat dalam aksi tersebut, yaitu femisida, hak atas tubuh perempuan, serta kesetaraan dalam lapangan pekerjaan bagi perempuan.

Komite aksi IWD juga menyampaikan dalam aksi, data kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sangat tinggi. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan (Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan) sepanjang tahun 2025 terjadi kekerasan berbasis gender terhadap perempuan mencapai 376.529.000 kasus.

“Angka itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Kejadian di ranah personal atau domestik menempati posisi tertinggi, diikuti di ranah publik, kemudian ranah negara.” Ujar perwakilan komite aksi.

Serukan Ruang Aman Bagi Perempuan!

Ella, mahasiswi psikologi UB yang mengikuti aksi, berpendapat tentang pentingnya membicarakan isu perempuan dalam kegiatan sehari-hari.

Menurutnya, perjuangan perempuan tidak hanya melawan individu, tetapi juga sistem dan budaya patriarki yang masih kuat dalam berbagai aspek kehidupan.

Ia berpesan kepada masyarakat untuk tidak menormalisasi lelucon-lelucon yang berbau seksis dan misoginis. Karena hal itu merupakan salah satu tindakan yang merendahkan martabat perempuan.

“Perlawanan bisa dimulai dari hal kecil, seperti tidak menertawakan lelucon yang merendahkan perempuan. Ketika kita menolak hal itu, kita sudah berpihak dan melawan sistem yang diskriminatif,” ujarnya.

Lebih jauh, Agatha, selaku perwakilan Komite Aksi IWD bersama massa aksi berharap adanya ruang yang lebih aman bagi perempuan di berbagai sektor dan pentingnya peran negara dalam memberikan perlindungan yang nyata bagi perempuan.

“Harapannya aksi adalah terciptanya ruang aman bagi perempuan di masa yang sekarang, terciptanya lapangan pekerjaan maupun kesetaraan dalam hal pekerjaan, serta kekerasan terhadap perempuan itu bisa semakin menurun,” ungkapnya.

Bagi para peserta aksi, peringatan Hari Perempuan Internasional tidak hanya menjadi momentum refleksi, tetapi juga ruang untuk terus menyuarakan perjuangan perempuan. 

Massa juga menegaskan terkait pentingnya memperkuat solidaritas dalam memperjuangkan kehidupan yang bebas dari kekerasan, eksploitasi, serta penindasan terhadap perempuan.

“Teruslah menyuarakan hak-hak kalian, karena kesetaraan bagi perempuan masih sangat jauh dari tercapai,” tutup Agatha. 

Editor: Moch. Fahmi Alfarizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru