Yang Aku Impikan Cuma Semangkuk Gulai Saat Idul Adha

Aku dilahirkan di musim hujan, kata ibuku. Sawah masih hijau waktu itu dan sungai di belakang kampung belum

Ilustrasi: Nailah Nur R/Siar
Ilustrasi: Nailah Nur/Siar

Aku dilahirkan di musim hujan, kata ibuku. Sawah masih hijau waktu itu dan sungai di belakang kampung belum keruh oleh limbah pabrik tahu. Tetapi hidup miskin membuat musim tak banyak berarti. Hujan ataupun kemarau, orang kecil tetap harus bekerja, tetap harus menahan lapar, tetap harus belajar menerima nasib seperti batu menerima lumut.

Ayahku tak pernah kulihat batang hidungnya. Ibu hanya bilang lelaki sering pergi sebelum sempat belajar menjadi ayah. Maka, sejak kecil aku dibesarkan di rumah Tuan Marto, pria berkumis tebal yang suaranya berat seperti pintu gudang berkarat. Ia memberiku makan, tempat berteduh, dan pekerjaan-pekerjaan kecil yang tak pernah benar-benar kupahami ujungnya.

“Lelaki harus kuat, gak boleh nangis,” katanya berkali-kali. Serius. Berkali-kali sampai aku hafal tangga nadanya.

Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuhku bukan milikku sendiri. Tubuhku milik pekerjaan. Milik kebutuhan. Milik orang-orang yang merasa sudah berjasa memberiku makan.

Makananku sehari-hari rumput kering dan ampas tahu. Kadang-kadang singkong rebus bila Tuan Marto sedang murah hati. Setiap kali berat badanku naik, Marto tampak bahagia. Ia menepuk kepalaku sambil tersenyum puas.

“Bagus,” kata Marto suatu sore sambil menepuk-nepuk kepalaku. “Kalau begini terus, kamu bakal jadi laki-laki berkelas, kamu bakal jadi inceran orang-orang.”

Ia tertawa setelah mengucapkannya. Kumisnya bergerak-gerak seperti ilalang terkena angin.

Aku pun ikut tertawa meski tak mengerti. Tuan Marto memang sering melontarkan kalimat-kalimat yang sulit kupahami.

Memang aku sendiri tak pernah sekolah, tak pernah merasakan asiknya berdiskusi, tidur di dalam kelas, kehilangan bolpoin. Aih, sebenarnya aku ingin sesekali merasakan rasanya duduk di bangku sekolah, tapi hasrat itu harus aku pendam. Ketika ibu selalu memperingatkan bahwa hidup kami hanya untuk 3 hal: kerja, kerja, dan bekerja.

Ibu bekerja di belakang rumah, membantu mengelola pabrik susu milik Tuan Marto, dengan wajah letih yang tampak lebih tua daripada umurnya.

Sesekali aku mencoba mengeluh tentang hidupku, tetapi ia selalu memotong kalimatku yang sebelum selesai. Katanya, lelaki bukan hidup untuk merasa, melainkan untuk bertahan. Aku akhirnya belajar menyimpan keresahan sendiri ke dalam tulisan diariku sehari-hari.

Ya, aku senang menulis. Lalu kenapa? Aku tak peduli dengan jargon Tik-tok akhir-akhir ini yang berbunyi “Lelaki tidak bercerita,” cih, bukannya Tuhan menciptakan mulut laki-laki dan perempuan dengan bentuk yang sama, lalu mengapa rukun hidupnya harus berbeda?

Pertanyaan itu terus aku pikirkan sambil mengunyah rumput kering yang menemani hidupku yang monoton ini, bersama radio tua, yang suaranya sering kresek-kresek seperti tikus yang main petak umpet dalam gulma.

Dari sanalah aku pertama kali mendengar kata “buruh”. Orang-orang di radio terdengar marah. Mereka bicara tentang upah murah, lembur, dan tubuh yang diperas sampai tinggal tulang. Kata-kata itu sebenarnya asing di telingaku.

Buruh?

Eksploitasi?

Bahasa apa itu?

Aku lalu bertanya pada Tuan Marto soal buruh, ia cuma tertawa kecil sambil mengembuskan asap rokok. Katanya, orang miskin terlalu banyak menuntut padahal sudah diberi makan.

Kepalaku hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawabannya, pendapat itu memang tak sepenuhnya salah. Aku ingat beberapa temanku yang memilih kabur dari rumah majikannya, nasibnya berakhir tragis, kalau tidak jadi kurus krempeng, ya.. Mati.

Akan tetapi, masih ada satu hal yang mengganjal di kepalaku, apakah orang-orang yang serupa dan senasib denganku akan terus-terusan begini. Diatur dan tidak pernah diizinkan memiliki kebebasan.

Entahlah, pertanyaan itu selalu dibalas sinis oleh Tuan Marto, beda dengan Syifa, anak semata wayang tuan Marto. Gadis itu dulu takut padaku sebab katanya wajahku menyeramkan. Tetapi setelah aku mengusir anjing kampung yang mengejarnya suatu malam, ia mulai sering duduk di dekatku sambil membawa buku sekolah.

“Aku ingin jadi dokter,” katanya suatu sore.

“Memangnya bapakmu setuju?” Syifa menggeleng pelan.

“Katanya perempuan nanti ujung-ujungnya ke dapur juga.”

Aku sempat tertawa kecil saat mendengar jawabannya, tetapi mulutku terdiam saat melihat pelupuk matanya yang redup. Dari situ aku mulai sadar, di rumah ini semua orang dilarang punya cita-cita. Bedanya, laki-laki dipaksa kuat, perempuan dipaksa menurut.

“Kamu sendiri pengen jadi apa?” Syifa mencoba mencairkan suasana.

Hampir saja aku mau menjawab jadi kumis Tuan Marto, tapi tidak jadi.

“Aku cuma pengen makan gulai.”

Syifa tertawa sampai batuk.

“Itu doang?”

Aku mengangguk.

Bagiku gulai adalah kemewahan paling mistis di dunia. Tiap Idul Adha aromanya memenuhi kampung seperti doa yang direbus bersama santan. Orang-orang makan sambil tertawa. Anak-anak berlari membawa tusuk sate. Para bapak berkeringat sambil memotong daging.

Sementara aku hanya bisa memandang dari jauh.

“Jangan mendekat,” kata ibu suatu ketika.

“Kau belum cukup kuat melihat darah.”

Aku diam, tetapi rasa penasaran tumbuh diam-diam dalam diriku.

Apa sebenarnya yang begitu suci dari penyembelihan?

Beberapa hari sebelum Idul Adha, aku seperti mendekati jawaban yang kucari saat melihat pamflet di dekat masjid.

OPEN RECRUITMENT IDUL ADHA

HADIAH: SURGA

Aku membaca tulisan itu lama sekali. Surga. Kata itu terdengar begitu jauh bagi orang tak berpendidikan sepertiku. Tetapi diam-diam aku membayangkan satu hal yang sederhana, mungkin surga adalah tempat dimana semua orang bisa makan gulai sepuasnya tanpa berebutan.

Malam itu aku meminta Marto mendaftarkanku. Ia menatapku lama. Terlalu lama. Lalu mengangguk.

Sejak hari itu sikapnya berubah aneh. Tubuhku dimandikan. Rumputku diganti yang segar. Bahkan, air minumku lebih bersih dari biasanya.

Syifa tampak murung melihat semua itu.“

Aku nggak suka ini,” katanya lirih.

“Kenapa?” tanyaku.

Ia tak menjawab. Hanya memeluk leherku lama sekali sampai aku bisa merasakan bahunya bergetar menahan tangis.

Hari Idul Adha tiba bersama matahari yang terasa terlalu terang. Halaman masjid ramai oleh manusia. Takbir menggema dari pengeras suara. Anak-anak kecil berlari sambil tertawa. Pisau-pisau diasah hingga mengeluarkan bunyi panjang yang membuat tengkukku dingin.

Aku mulai merasa takut.Tetapi ketakutan orang kecil sering kali tidak dianggap penting. Para lelaki berkaos oblong mengerumuniku. Mereka memegang tubuhku ramai-ramai.

Mula-mula pelan, lalu semakin keras ketika aku mencoba mundur.

“Wah, besar.”

“Sehat ini.”

“Dagingnya pasti banyak.”

Cara mereka membicarakanku membuat tengkukku dingin. Aku mundur pelan. Tetapi tali di leherku ditarik keras. Tubuhku direbahkan ke tanah.

Debu masuk ke hidungku. Nafasku memburu. Kakiku diikat satu per satu seperti penjahat yang hendak dieksekusi.

Aku mulai meronta.

Dan tiba-tiba seluruh hidupku terasa sangat pendek.

Aku teringat ibu. Di mana dia? Aku tak lagi menemuinya sejak dibawa kesini. Lalu, aku teringat radio tua. Teringat buruh. Teringat Syifa yang bercita-cita jadi dokter.Teringat rumput kering yang kumakan tiap pagi.

Lucu sekali. Makhluk hidup memang baru sadar betapa berharganya hidup tepat ketika hidup itu hendak dirampas.

“Pegang kepalanya!”

“Jangan sampai lepas!”

Takbir menggema makin keras.

Seseorang mengusap leherku pelan.

“Tenang, ya.”

Tenang?

Bagaimana mungkin seekor makhluk bisa tenang saat dunia sedang bersiap menggorok-gorok lehernya?

Pisau itu menyentuh kulitku. Dingin. Lalu bergerak perlahan. Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa sendirian.

Aku mencari wajah Tuan Marto di antara kerumunan. Ia berdiri tidak jauh dariku sambil berbincang santai dengan manusia-manusia lain, seolah yang sedang dibaringkan di tanah itu bukan makhluk hidup, melainkan karung beras yang sebentar lagi dibuka.

Aku ingin memanggilnya.

Aku ingin bertanya mengapa.

Bukankah selama ini ia memeliharaku?

Bukankah selama ini aku percaya padanya?

Tetapi yang keluar dari mulutku hanya suara parau yang terdengar asing bahkan bagi diriku sendiri.

Aku mendengar Syifa menangis histeris. Aku ingin menoleh padanya tetapi tubuhku mulai kehilangan tenaga. Dan di detik itulah semuanya menjadi jelas.

Aku tak pernah dibesarkan sebagai anak melainkan sebagai gulai.

Semua nasihat tentang menjadi jantan hanyalah cara agar aku patuh sampai hari penyembelihan tiba. Dunia rupanya selalu membutuhkan lelaki kuat. Bukan untuk dimuliakan, melainkan supaya tahan diperas sebelum akhirnya dikorbankan.

Pandangan mataku makin gelap. Gemukku mati rasa. Ujung kakiku sudah lemah tak berdaya.

Tetapi anehnya, di tengah bau darah yang amis itu, aku masih sempat mencium aroma gulai dari kuali besar dekat masjid.

Harum sekali.

Sial.

Barangkali memang beginilah nasib orang sepertiku berakhir. Mengubur mimpi, demi mewujudkan mimpi orang lain.

Penyunting: Riska Yulistia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru