Barangkali Kita Hidup dalam Ampas Kopi

barangkali tulisan ini tidak indahbarangkali kopimu tak manis ketika membacanyaya, mungkin memang tidak pernah manissemanis janji tikus kepada

Riska Yulistia/Siar
barangkali tulisan ini tidak indah
barangkali kopimu tak manis ketika membacanya
ya, mungkin memang tidak pernah manis
semanis janji tikus kepada saudaranya yang ingin roti kukus
sayangnya ini bukan sekedar tikus dan roti kukus

barangkali kita hidup dalam ampas kopi
yang manisnya diambil tikus tadi
rakus, tak pernah kenyang meski harga melambung tinggi.
ia pandai mengganti kulit,
pandai pula mengganti sumpah
setiap musim pemilihan arah.

barangkali kita terlalu lama percaya
bahwa pahit adalah tabiat kehidupan,
sampai lupa pahit juga bisa diwariskan.

ada yang menyesap gulanya lebih dulu,
meninggalkan hitamnya untuk kita seduh setiap pagi.
lalu mereka menyebutnya pemerataan rasa.

kita menertawakan luka agar tak terdengar sedang menangis.
kita menyebut kenyang pada perut yang sekadar berhasil bertahan.
barangkali bukan kopinya yang berubah,
melainkan cangkir-cangkir itu yang tak lagi dibagikan dengan adil.

dan bila suatu hari kau bertanya mengapa aroma kopi tak lagi menghangatkan,
jangan buru-buru menyalahkan bijinya.
mungkin, sejak awal yang diseduh bukan harapan,
melainkan sisa-sisa yang tak sempat dihabiskan mereka.

ah, lupakan bait yang baru saja singgah
bukan tak berani,
barangkali rasanya memang kita hidup dalam ampas kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


šŸ”Ž Apa yang ingin kamu cari?
Search
šŸ”„Terbaru