23 Juli 2024 12:43 PM
Search

Belajar Penalaran Deduktif ala Detektif melalui Novel Sherlock Holmes

Sherlock Holmes: A Study in Scarlet atau dalam bahasa Indonesia berjudul Penelusuran Benang Merah merupakan novel klasik yang

Dokumentasi/LPM Siar

Sherlock Holmes: A Study in Scarlet atau dalam bahasa Indonesia berjudul Penelusuran Benang Merah merupakan novel klasik yang ditulis pertama kali oleh Sir Arthur Conan Doyle pada tahun 1887. Novel ini juga menjadi awal perkenalan pada sosok Sherlock Holmes. Holmes merupakan sosok detektif nyentrik namun jenius yang tinggal di Jalan Baker No. 221B Kota London, Inggris. Holmes tinggal bersama dr. James Watson yang merupakan seorang pensiunan dokter militer angkatan darat Inggris. Watson menjadi teman setia Holmes yang selalu ikut dalam setiap petualangannya dan mencatatkannya di dalam bukunya sehingga sudut pandang yang dipakai dalam novel ini memakai sudut pandang Watson. 

Pada novel ini juga diperkenalkan tentang penalaran deduktif yang biasa dipakai oleh Holmes untuk memecahkan kasus kriminal kejahatan. Penalaran deduktif merupakan penalaran mengambil suatu kesimpulan berdasarkan penyataan yang lebih umum. Holmes mengamati hal-hal umum yang dapat diamati dari seseorang, seperti penampilan atau perilakunya, untuk bisa mengambil kesimpulan tentang siapa orang tersebut.

Holmes menjelaskan jika dia bisa menebak karakter seseorang dari detail kecil yang ada pada orang tersebut. Holmes dapat menebak bahwa Watson merupakan tentara medis angkatan darat yang pernah bertugas di Afghanistan sejak pertama kali mereka bertemu. Holmes menjelaskan bahwa hal itu dapat ditebak dengan mengambil kesimpulan dari penampilan Watson yang seperti seorang dokter, namun dengan perawakan militer. Wajah dan kulit Watson yang kecoklatan menandakan bahwa dia pernah tinggal di daerah tropis. Ekspresi Watson yang keras serta lengan kirinya yang posisinya kaku dan tidak wajar menandakan bahwa dia pernah menderita luka karena terlibat dalam peperangan. 

Contoh lainnya yakni ketika Holmes dapat menebak dengan tepat bahwa tamu yang datang ke rumahnya adalah seorang pensiunan sersan marinir. Holmes dapat menebaknya dengan mengamati tato jangkar di punggung tangan tamunya. Pembawaan tamunya juga khas anggota militer. serta potongan cambang dan janggutnya sering digunakan oleh anggota marinir. Sikap tamunya yang berwibawa dan percaya diri serta caranya menegakkan kepala dan mengayunkan tongkatnya juga menunjukkan bahwa tamunya merupakan orang penting. 

Contoh di atas merupakan contoh sederhana tentang penalaran deduktif yang digunakan Holmes untuk menebak profesi seseorang. Cara yang sama juga digunakan Holmes untuk memecahkan kasus kriminal di Inggris, terutama di Kota London. Holmes menjelaskan bahwa dia bisa mendapatkan banyak informasi jika banyak melakukan pengamatan yang cerdas dan sistematis. Holmes bahkan bisa mengetahui pikiran seseorang dari mikro-ekspresi orang tersebut berupa ekspresi sesaat, sentakan otot dan lirikan mata.

Kemahiran penalaran deduktif dan analisis bisa diperoleh melalui proses belajar dan pengalaman panjang yang membutuhkan kesabaran di dalamnya. Penalaran deduktif dapat dilatih dengan mencoba mengamati dan mengobservasi seseorang ketika bertemu. Cobalah untuk mengamati jari dan kukunya, kerah baju, sepatu boot, dan lutut celana panjangnya. Hal-hal itu dapat menjadi cerminan dari profesi dari seseorang. 

Novel ini cocok dibaca untuk bisa memahami dengan mudah tentang penalaran deduktif yang dikemas melalui sebuah cerita fiksi. Namun, bagi orang yang belum terbiasa membaca novel misteri-kriminal yang alur ceritanya rumit, maka akan sedikit sulit untuk memahami alur ceritanya.

Penulis:  Widya Hafidh Asy’ary/Kontributor

Editor: Afifah Fitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA