14 Juli 2024 9:13 AM
Search

Kelumpuhan UM dari Dalam

Entah bagaimana mulanya, Universitas Negeri Malang sebagai The Learning University selalu identik dengan mahasiswa pendidikan dengan stigma patuh,

Entah bagaimana mulanya, Universitas Negeri Malang sebagai The Learning University selalu identik dengan mahasiswa pendidikan dengan stigma patuh, normatif, rapi, kuper, stagnan, standar, bahkan mungkin—membosankan. Tentu Anda boleh sekali tidak sepakat dengan pernyataan tersebut, namun barangkali yang barusan itu, sekurang-kurangnya pernah terlintas di benak kita sebagai mahasiswa UM, terutama ketika membanding-bandingkan diri kita sendiri dengan mahasiswa kampus lain.

Mungkin juga analisis saya salah telak, justru Anda semua sebagai mahasiswa UM merasa sebaliknya, bangga sebagai bagian dari Universitas tua yang ikut serta merekam perjalanan sejarah dan turut larut berkontribusi pada pembangunan negara karena memproduksi jutaan guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Apapun itu, sikap dan perasaan Anda terhadap UM tercinta, rupanya kita musti prihatin.

Ada kekhawatiran yang khas tentang  UM, dimana dengan label pendidikan yang divisualisasikan sebagai seorang guru dengan serentetan sifat-sifat yang membuntutinya: terpelajar, taat aturan, teladan, bersahaja dan lain-lain itu, adalah pembenaran untuk meruntuhkan idealisme sebagai mahasiswa yang sarat akan kekritisannya dan memiskinkan wujud esensi perubahan sebagai kaum steril kepentingan.

Tidak luput kita menyalahkan sistem yang menciptakan struktur dan alur kelumpuhan yang demikian kompleks dan mengakar,  kiranya kita juga perlu membaca seperti suasana hati para mahasiswa UM hari ini dan bagaimana dampaknya pada garis besar pendidikan skala nasional.

Suasana UM hari ini

Entah apa yang sedang diburu kawan-kawan pergerakan ekstra kampus, selain kursi presiden dan dewan mahasiswa, selain upaya-upaya penjaringan kader baru di masa PKPT. Entah apa juga yang dikerjakan rekan-rekan pejabat organisasi tingkat fakultas atau jurusan, selain sibuk tentang program kerja event inagurasi yang biasanya hanya seputar hahahihi, selain sibuk berlomba membikin konser paling megah di Graha Cakrawala. Mungkin itulah tolak ukur kesuksesan organisasi mahasiswa di UM saat ini.

Menengok seputar akademis, bukan hal yang baru lagi bahwa  mahasiswa UM juga sedang disibukkan kegiatan membikin kripik sandal untuk memperdalam kreativitas dan inovasi, guna memburu kompensasi berupa sertifikat dan uang tunai yang dapat digunakan membayar SPP semester depan. Para dosen pun juga mendorong sekencang-kencangnya mahasiswa untuk menciptakan gagasan-gagasan yang disebut ‘kreatif’ untuk meningkatkan akreditasi institusi. Sementara itu, kita mungkin menyadari soal karakter mahasiswa UM secara personal yang beraneka ragam, mungkin berada pada range yang lebar, namun kiranya ada kecenderungan suasana hati mereka dalam beberapa garis besar, yakni mahasiswa yang berorientasi pada Indeks prestasi kumulatif yang tidak akan pernah hilang, pun mereka yang mengaku bohemian dengan rambut gondrong, celana belel, kaus lusuh juga tidak lantas pudar, dan kiranya arus paling deras (mungkin juga menjangkiti kampus lain) adalah pragmatisme mahasiswa yang direpresentasikan dengan ketidakpedulian atas lingkungan sekitar, karena mahasiswa yang sedemikian hanya peduli dengan ijazah, lulus kuliah kemudian kerja.

Mari coba kita analisis, dengan wadah organisasi yang memiliki tujuan sebegitu dangkalnya, ditambah dengan karakteristik mahasiswa UM yang sedemikian krisis identitas sebagai seorang pemuda bangsa, maka bukan tidak mungkin kelumpuhan mahasiswa sebagai pusar pergerakan itu tercipta secara alamiah, tanpa harus susah-susah mengotori tangan tirani sebagaimana jaman 90an. Suasana yang ‘terlihat’ baik-baik saja inilah yang perlu diwaspadai, bisa jadi hal tersebut menggiring pada alpanya ruang-ruang diskursus para mahasiswa, akibatnya segala kegiatan pendidikan yang telah dirancang  hanya bermuara pada kenaifan belaka. Tidak hanya soal pendidikan tinggi yang semakin ahistoris, namun soal kampus yang tidak lagi berdinamika adalah sebuah paradoks tersendiri.

Kedua, suasana yang ‘dibuat’ baik-baik saja  itu membikin mahasiswa kehilangan kesempatan mengembangkan diri sebagaimana kaum terpelajar yang memiliki substansi luhur, tidak heran jika mahasiswa yang seharusnya menjadi muda dan berbahya tersebut, kini terjebak pada hal-hal teknis yang normatif. Jika ingin ditafsir lebih jauh, suasana UM hari ini tak lebih dari gudang pelabuhan tempat singgahnya barang mentah dari kapal-kapal besar, yang selanjutnya hanya menjadi komoditas industri di luar sana. Karakter mahsiswa yang kritis terbunuh oleh situasi yang gagal menyalurkan kelebihan energi. Timpang dan tidak dinamis.

Kekhawatiran terbesar

UM dulu memang adalah IKIP, sebuah institut keguruan yang banyak memproduksi praktisi pendidikan. Dalam perkembangannya UM memberanikan diri membuka beberapa jurusan-jurusan non-kependidikan, namun tetap saja genre pendidikan masih mendominasi wisudawan/wisudawati di setiap angkatan kelulusan. Artinya, lulusan UM memiliki kontribusi yang besar terhadap masa depan pendidikan di Indonesia. Barangkali terjadinya kekacauan di dunia pendidikan kini, tidak terlepas dari rendahnya mental dan moral para guru atau—kalau tidak mau disebut para karyawan pendidikan.

Disinilah letak relevansinya, proses pembunuhan karakter kritis sejak mahasiswa membawa dampak pada implementasi pendidikan di dunia nyata. Jika sejak perguruan tinggi paradigma kritis tidak terbangun, maka bagaimana mungkin seorang guru lulusan UM dapat memiliki mental dan moral yang mumpuni menjadi seorang pengajar sejati?

Lantas dari mana kita bisa mengharapkan perubahan ke arah yang lebih baik jika generasi muda kelak juga mendapatkan pelayanan pendidikan yang masih sama dengan apa yang kita rasakan sekarang, bahwa guru adalah subjek belajar dan murid adalah objek belajar?

Proses dehumanisasi akan terus berulang, sakit hati demi sakit hati di dunia pendidikan hanya akan menjadi meme comic di jejaring sosial, tanpa ada perubahan yang berarti. Jika saja mahasiswa UM mau meluangkan waktu untuk membaca Paulo Freire, mengilhami sejenak tentang apa itu arti pendidikan yang memanusiakan manusia, maka perlahan kita juga akan sadar, bahwa mungkin ada yang salah pada proses kita bertumbuh dan berkembang di kampus bergenre pendidikan, the learning university, Universitas Negeri Malang.

***

Demikian alur kelumpuhan mahasiswa UM beserta prediksi akibat yang dapat menjalar begitu fatal.  Kelumpuhan ini entah mampu dideteksi oleh kesadaran atau justru luput oleh euforia ajang pencarian bakat yang menyilaukan sebagian besar anak muda, yang jelas kita mesti berani merefleksikan kembali.

(Mutia Husna Avezahra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA