Kamis (17/4), Aksi Kamisan Malang menggelar aksi rutin di Gerbang Jalan Surabaya Universitas Negeri Malang (UM). Aksi ini mengangkat tema, “Kampus Hari Ini: Komersil, Menindas dan Merepresi”.
Program Aksi Kamisan Road to Campus telah berlangsung sejak 10 April 2025. Setelah menyambangi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Negeri Malang (UM) menjadi kampus kedua yang dikunjungi.
Isu komersialisasi pendidikan dan kekerasan seksual menjadi sorotan utama dalam aksi ini, sekaligus alasan pemilihan tema yang diangkat.
Haidar sebagai fasilitator aksi kamisan kali ini, menjelaskan bahwa, untuk mendapatkan eksposur yang lebih besar, aksi dilakukan dengan keliling kampus yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran mahasiswa.
“Dampak yang lebih besar mungkin ke kita, sebagai mahasiswa. Jadi, kami ingin menjaring gerakan yang lebih luas, dari jaringan kecil hingga besar,” ujarnya.
Salah satu peserta aksi dari UM, yang akrab disapa Arlyn, menyampaikan bahwa aksi ini untuk menyebarkan kesadaran di tengah apatisme mahasiswa terhadap isu-isu yang ada, seperti isu Smart Gate yang akan berdampak kedepannya bagi mahasiswa.
“Karena dari beberapa yang saya kenal, khususnya mahasiswa UM, mereka itu masih cukup apatis terkait isu-isu yang ada, dan mereka masih menunggu penggerak. Jadi, memang harus secara kolektif diajak aksi, supaya sadar dengan komersialisasi kampus atau isu yang terkait seperti Smart Gate.” ujar Arlyn.
Selain itu, ia menegaskan bahwa menyuarakan pendapat bisa dilakukan dengan cara yang damai, tidak seperti yang sebelumnya yang dinilai masyarakat mengganggu ketertiban di jalan.
“Banyak masyarakat yang protes terhadap aksi-aksi sebelumnya karena bikin macet. Namun, kami ingin menunjukkan bahwa ada aksi yang damai untuk menyuarakan pendapat tanpa harus menimbulkan chaos,” tuturnya.
Arlyn juga membagikan pengalaman pribadinya yang berkaitan langsung dengan isu komersialisasi kampus. Ia mengaku turut merasakan dampaknya, seperti diberlakukannya sistem Smart Gate dan kewajiban membayar untuk mengikuti wisuda.
“Saya merasakan dampak dari komersialisasi kampus, seperti yang baru-baru ini di UM ada Smart Gate dan adanya biaya wisuda,” jelasnya.
Arlyn menambahkan bahwa upaya untuk menyadarkan mahasiswa UM terhadap aksi yang dilakukan bukanlah hal yang mudah, tergantung kesadaran individu masing-masing.
Meski begitu, aksi-aksi yang digelar diharapkan dapat menjadi stimulus agar isu yang diangkat setidaknya mendapat perhatian, bahkan dari mereka yang hanya sekadar lewat.
“Karena kesadaran individu itu tergantung mereka. Cuman kita menstimulus aja lewat aksi-aksi seperti ini supaya ke notice, setidaknya mereka lewat, aksi ini kenotice,” tuturnya.
Selain itu, Haidar menyadari adanya peningkatan partisipasi dari mahasiswa dalam aksi. Hal ini dinilai sebagai sinyal positif bahwa kepedulian mahasiswa UM menunjukkan adanya peningkatan ketertarikan.
“Kalau dari tadi, saya lihat mungkin banyak wajah-wajah baru. Kayaknya juga anak-anak UM yang paling datang ke sini. Itu sebuah prestasi buat kita juga,” ujarnya.
Aksi Kamisan ini diharapkan bisa membuat mahasiswa melek terhadap isu-isu sosial dan lebih sadar akan lingkungan sekitar mereka. Yang lebih penting adalah kesadaran sosial terhadap isu-isu yang ada di sekitar mereka.
“Harapan kami adalah agar mahasiswa lebih sadar dengan isu-isu yang ada di sekitar mereka. Menjadi pintar saja tidak cukup, kesadaran terhadap isu-isu juga sangat penting,” tandas Haidar.
Editor: Geri Rahman





