Air tergelincir dari langit menuju tanah
Mencari akar yang onggoknya telah punah
Mencari daun yang awalnya rapat menjadi berjarak
Burung-burung beterbangan mencari teman
Para hewan marah kehilangan hunian
Sedang, para penguasa tertawa di atas kursinya
Haha-hihi katanya
Mereka merayakan pundi atas luka semesta
Menulikan telinga dari makhluk yang tak berdaya
Gurun hijau itu berbaris angkuh di atas tanah
Membungkam hutan yang kini telah punah
Satu dunia tau hijau itu hanyalah semu
Alam itu merintih kehilangan restu
Air yang tak dihormati berlarian menerjang riuh
Gelondongan pun menjadi saksi bisu
Tanah itu menangis sejadi-jadinya
Karena ia dipaksa untuk melupakan banyak nama
Ia dipaksa melupakan teman-temannya
Dan ia dipaksa mengabdi pada satu nama.
Air dilepaskan tanda ia tak lagi sanggup menahan.
Sebab akar, teman setianya, telah menghilang.
Baca Juga
Target Pasarnya Bukan āKitaā
31 Juli 2026
Menggambar Hujan
31 Juli 2026
Barangkali Kita Hidup dalam Ampas Kopi
26 Juli 2026
Ya, Coba Biarkan Tanpa Tangan-Tangan Itu
5 Juni 2026

Rumahku yang Berusia 81 Tahun
17 Agustus 2026

Target Pasarnya Bukan āKitaā
31 Juli 2026

Menggambar Hujan
31 Juli 2026

Barangkali Kita Hidup dalam Ampas Kopi
26 Juli 2026

Ya, Coba Biarkan Tanpa Tangan-Tangan Itu
5 Juni 2026
