Setiap Kali ke Latar Kota

Oleh: Abdul Khodir Al Jailani Kulihat anak-anak SD ke beranda kota, terlambat empat angka, mereka pakai kaus hitam

Abdul Khodir Al Jailani/ Siar

Oleh: Abdul Khodir Al Jailani

Kulihat anak-anak SD ke beranda kota, terlambat

empat angka, mereka pakai kaus hitam tualang, 

melambat. Dan mereka seolah sadar, saat pulang —

Ada yang lebih genting 

daripada biru-biru semu berebut wilayah.

Kita rapatkan terang warna kita

menepi ke payung hitam dan merah.

Kita lepaskan amarah.

Tapi mereka tetap saja, makhluk yang mengaku

arek itu, sok tua bangka itu, seakan merasa

dirinya paling murni daripada kota itu sendiri.

Hey! Orang suci, bukankah sudah diperingatkan

merasa kalis adalah najis itu sendiri!

Kota ini adalah

Kabar, kabar, kabar

yang diseprai amarah; kota ini rumah tetirah

bagi mereka yang ingin memerangi,

perangi, perangi, perangi Kebathilan.

 

Sayang, memang. Kota itu kini

malang, brengsek & kota itu

kini diwarnai oleh si paling Tuhan.

Adakah mereka tahu, Jayakatwang, si Arok

dan beberapa bathil yang dicarok?

Kota ini adalah Sodom & Gomora bagi sang

Mesias palsu! Kita tak butuh biru! Kita

Butuh kehancuran sang bathil!

Malang, memang.

Kabar baik adalah barang yang terlambat

di sisa gema pemuda, kadang terbentur oleh

tetua yang masih melangitkan kota ini.

Sayang sekali, tetua-tetua kecil belum binasa.

Hai sipil-sipil negeri, bersatulah!

Hancurkan mala itu, kita rakyat, suara Icwara!

— Pulang:  Anak SD itu tak kembali lagi, setelah

menyadari, waktu lalu, nyawanya ditutup di depan gerbang,

beberapa jenak setelah peluit panjang.

Malang, 23 Maret 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru