Launching Film Riwayat Capung dari Sebuah Telaga: Menyoroti Hilangnya Alarm Alam

Siar — Launching film Riwayat Capung dari Sebuah Telaga telah dilangsungkan pada Senin, 25 Agustus 2025 lalu di

Moch. Fahmi/ Siar

Siar — Launching film Riwayat Capung dari Sebuah Telaga telah dilangsungkan pada Senin, 25 Agustus 2025 lalu di Pondok Sinau dan Kreasi, Lowokwaru, Kota Malang. Kegiatan ini juga dibersamai dengan Diskusi Nusantara (DINAR) yang juga dihadiri oleh dengan tim produksi film. 

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Siar, LPM Kavling10 dan Mekanisme Capung. 

Badra Dafa’a Ahmad, produser film, menjelaskan bahwa film ini menyoroti tentang air dan bencana yang dikemas dengan konsep yang puitis dan advokatif. Ia menjelaskan bahwa film ini menyoalkan sebab-akibat yang mana Wendit sebagai wilayah berkumpulnya perairan. 

Wilayah ini menjadi habitat capung yang kemudian dieksploitasi sehingga capung yang awalnya banyak menjadi berkurang.

“Sekarang ketika kondisinya itu eksploitatif gitu ya, akhirnya terbukti di tampilan-tampilan capung tadi yang memang sudah banyak berkurang,” jelas Badra. 

Pemilihan objek capung dalam film ini dikarenakan adanya capung yang dulunya menjadi sebuah penanda akan terjadinya kerusakan di lingkungan sudah jarang ditemukan. Hal ini diungkapkan oleh Ajmal Fajar Shidiq, salah satu penggagas ide dari film Riwayat Capung dari Sebuah Telaga, menyebut hilangnya capung sebagai tanda kepunahan yang tengah berlangsung.

“Hari ini kita tidak lagi melihat alarm cuaca lewat capung misalnya, kita harus cepat-cepat semisal ada gempa, kita lihatnya ke BMKG. Kalau orang dulu masih ngalamin misalkan untuk menentukan apakah air itu bersih atau enggak lihatnya lewat capung,” ujar Ajmal Fajar Shidiq

“Hari ini mungkin kita sudah terotomatisasi untuk menentukan besok hujan atau enggak itu lihatnya ke BMKG. Tidak lagi merasakan apa yang di sekitarnya,” tambahnya.

Muhammad Tajul Asrori, salah satu penonton film Riwayat Capung di Sebuah Telaga mengatakan bahwa film ini mencoba untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga alam.

“Dengan melihat ini kita bisa tahu ternyata di Malang yang masih kota, kabupaten dekat kota itu merupakan titik nol pertemuan dari beberapa sumber air dan di situ banyak capung. Namun, sekarang sudah hilang dan film ini mencoba untuk mengingatkan kita betapa pentingnya untuk menjaga alam,” ujar Tajul.

Kiki Raharjo, salah satu peserta diskusi menawarkan solusi untuk melestarikan capung, ekonomi dan keresahan lain di daerah Wendit. Menurutnya, hal ini bisa dimulai dengan melakukan aktivitas bersih sungai yang mungkin bisa dimulai dari diri sendiri. 

“Nah, sederhananya, apapun itu dimulai dari kita dulu, namanya butterfly effect. Kalau enggak dari kita, kalau kita mau mengharapkan efek yang besar dan pemerintah nggak bisa, mau ngandalin siapa lagi kalau bukan kita?” ujarnya. 

“Mungkin teman-teman di sini bisa mulai membuat entah itu komunitas atau mungkin bisa gabung dengan kami, kami kemarin bikin acara bersih sungai, nah gunanya bersih sungai ini untuk pelestarian capung dan kunang-kunang itu tadi,” tambahnya. Kiki juga berharap bahwa film ini bisa menambah wawasan bagi penontonnya. 

Editor: Moch. Fahmi Alfarizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru