23 Juli 2024 1:39 PM
Search

Bedah Buku The World Called Children: Tukar Budaya dan Pandangan dalam Menghadapi Anak-anak

Dalam rangkaian Korean Author Book Tour Indonesia menyelenggarakan bedah buku The World Called Children karya Kim Soyoung dengan

Foto: Trisna/Siar
Dokumentasi/LPM Siar

Dalam rangkaian Korean Author Book Tour Indonesia menyelenggarakan bedah buku The World Called Children karya Kim Soyoung dengan tema “Berteman dengan Anak-Anak Itu Menyenangkan” pada hari Senin (29/1/24) yang berlokasi di Kafe Pustaka (Kafpus) Universitas Negeri Malang (UM). 

Acara ini merupakan hasil kerja sama dari penulis, penerbit dan pelaksana kegiatan dengan melibatkan komunitas literasi di kota setempat seperti; Readingalam, dan Pelangi Sastra. Adanya acara ini menjadi diskusi mengenai cara berkomunikasi dengan anak serta menjadi sarana bagi penulis dan peserta bedah buku untuk bertukar budaya dan pandangan dalam menghadapi anak-anak.

Bedah Buku ini dipimpin oleh Lia Kusumawardani sebagai moderator dan pengelola Klub Anak Semesta Kumbo yang mengajak anak-anak untuk berkarya sebagai reporter cilik. Sedangkan narasumber yang hadir pada penghujung rangkaian Korean Author Book Tour Indonesia yaitu Kim Soyoung sebagai penulis The World Called Children yang berasal dari Korea, dan Reda Gaudiamo yang merupakan penulis buku berjudul Na Willa, Hai Nak!. Acara itu juga diisi oleh beragam musikalisasi puisi seperti Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. 

Baca Juga : Majalah Siar Edisi XXVI Tahun 2023

Buku The World Called Children berisi esai yang berasal dari keresahan dan pengalaman penulis saat menjadi anak-anak dan sebagai guru untuk anak-anak usia dini. Pada buku tersebut pembaca akan mendapatkan pengetahuan dalam bersikap kepada anak-anak dan berkomunikasi dengan mereka.

“Kesabaran diperlukan dalam berkomunikasi dengan anak-anak, karena mereka memerlukan waktu untuk mengolah dan menerjemahkan apa yang dimaksudkan oleh pengajarnya. Mengajak mereka berdiskusi sebagaimana berbicara dengan orang dewasa dapat menjadi salah satu cara untuk menghargai anak-anak,” tutur Reda.

Reda Gaudiamo yang dikenal sebagai ibu virtual menceritakan bagaimana pengalamannya saat menjadi seorang anak dan seorang ibu saat memperlakukan anaknya. Perbedaan pola asuh yang terjadi pada zaman dahulu yang tegas dan keras terjadi juga di Korea yang direspon oleh Kim Soyoung. Namun, kedua narasumber bersepakat untuk memperlakukan anak-anak “setara” dengan orang dewasa.

“Banyak bagian yang menarik, pada bagian awal saat bersama anak-anak itu harus sabar, mereka bukan tidak bisa, tapi mereka perlu waktu. Kemudian treat anak-anak sama seperti orang dewasa, kita sering menganggap anak-anak itu tidak mengerti apa-apa, padahal mereka sendiri mengerti, kok. Cuman kita butuh kesabaran dan kemauan untuk menerangkan dengan cara yang mereka mau,” ungkap Reda Gaudiamo.

Terdapat Bab “Anak yang Baik” berisi penjelasan bagaimana sikap penulis dalam berkomunikasi dengan anak-anak, jarangnya pujian “anak yang baik” disampaikan oleh wanita dengan ekspresi ceria kepada anak didiknya bertujuan untuk menghindari dampak negatif dari afirmasi positif. Karena penyampaian pujian yang dilakukan secara intens dapat membuat anak merasa “haus” akan pujian.  

Azka, mahasiswi Kimia Universitas Brawijaya yang berkesempatan untuk bertanya kepada Penulis asal Korea tersebut menuturkan ada bagian yang menyentuh dan berbekas untuk dirinya pribadi. 

“Bagian paling menarik bagi saya yaitu bab ‘anak yang baik’, penulis bercerita kepada kita jarang menyebut anak itu baik. Karena jika dilakukan terus menerus anak tersebut akan haus akan afirmasi ‘anak baik’ padahal dunia itu tidak sebaik itu, takutnya anak-anak itu ingin menjadi baik tapi dimanfaatkan oleh orang lain.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA