MALANG – Sabtu (26/4) Pemutaran dan diskusi film Turang karya Bachtiar Siagian menjadi sorotan dalam peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika di Kota Malang. Bertempat di Caffee Local, acara ini diinisiasi oleh Sabtu Membaca dan dihadiri akademisi, budayawan, serta anak muda. Diskusi menyoroti ideologi dan relevansi film Turang terhadap narasi kepahlawanan dan perjuangan dalam konteks kekinian.
Prof. Mundi Rahayu, akademisi bidang studi budaya, menegaskan bahwa Turang merupakan film dengan ideologi yang kuat. Ia menyatakan bahwa Bachtiar Siagian menyampaikan pesan bahwa setiap orang, termasuk rakyat sipil, dapat menjadi pahlawan.
“Kita bisa mengamati bahwa emm cara pandang atau perspektif filmmaker-nya dalam hal ini sutradaranya, itu mempunyai ideologi yang jelas, jadi ia lebih ingin mengedepankan bahwa hero itu bisa semua orang gitu,” ujar Mundi.
Dalam film tersebut, perjuangan melawan penjajahan tidak hanya dilakukan oleh militer, tetapi juga oleh masyarakat sipil—perempuan, anak-anak, hingga orang tua. Turang merepresentasikan keterlibatan kolektif rakyat dalam perjuangan nasional, membongkar pandangan sempit bahwa pahlawan hanya berasal dari kalangan tentara.
Selain itu sejarawan Domini turut menjelaskan sejarah film ini yang sempat “menghilang” dari peredaran. Film Turang, yang dirilis pada 1957, termasuk dalam deretan karya sutradara berhaluan kiri yang dibatasi peredarannya pada masa lalu.
“Film ini akhirnya ditemukan di Rusia dan pernah ditayangkan di Festival Film Asia-Afrika di Taspen,” ujarnya.
Pemutaran dan diskusi film ini tidak hanya menjadi ruang refleksi sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali wacana tentang siapa yang layak disebut pahlawan dalam perjuangan kemerdekaan. Kegiatan ini diharapkan mendorong generasi muda untuk melihat sejarah dengan sudut pandang yang lebih luas.
Editor: Tian Martiani





