Malang — Puluhan Ojek Online (Ojol) berkumpul di Alun-alun Merdeka Kota Malang pada Jumat (29/8), untuk menggelar aksi solidaritas. Mereka berkumpul tidak untuk mencari penumpang melainkan mencari keadilan untuk Affan Kurniawan, sesama pengemudi ojol yang wafat dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) milik Brimob. Gelaran aksi solidaritas ini sebagai bentuk rasa kemanusiaan terhadap rekan seprofesi mereka.
Aksi solidaritas ini dimulai dengan long march dari Jalan Simpang Balapan menuju Gedung DPRD Kota Malang hingga ke alun-alun. Di depan DPRD, para ojol meneriakkan tuntutan keadilan untuk rekan mereka sembari membawa bunga mawar putih dan poster-poster yang menyerukan keadilan bagi Affan. Pukul 16.30, para ojol mulai bergerak ke Alun-alun Merdeka untuk menggelar doa bersama.
Fauzi, salah satu pengemudi ojol, menjelaskan bahwa aksi ini lahir dari gerakan hati nurani, bukan paksaan. Bagi para ojol, aksi solidaritas ini merupakan aksi kemanusiaan dan wujud kepedulian sebagai rekan seprofesi yang mereka anggap saudara.
Dalam pengamatannya, Ia melihat tragedi ini sebagai simbol kebrutalan aparat yang dipertontonkan secara jelas di muka umum.
“Sesama rekan seprofesi seharusnya kita marah dan muak melihat itu. Gerakan ini bukan Gerakan yang sistematis, kami semua berangkat dari rasa kemanusiaan dan hati Nurani,” ungkap fauzi.
Ia menuntut keadilan seadil-adilnya yang transparan, tidak hanya untuk Affan juga untuk seluruh aspek masyarakat.
“Saat ini kami mengedepankan nilai-nilai proses pengadilan hukum yang transparan dan adil bagi warga sipil seperti kami,” tambahnya dengan nada penuh ketegasan.
Di lain sisi, Herma, pengemudi ojol lainnya menyinggung soal ketimpangan hukum yang kerap dirasakan rakyat kecil. Ia menilai aparat dan pejabat sering memperlakukan masyarakat secara tidak adil, sementara pelanggaran oleh mereka yang berkuasa justru dibiarkan.
“Diadili menurut undang-undang, isitlahnya keadilan itu jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas, dan pejabat juga harus bekerja dengan amanah rakyat yang sesuai dengan harapan” ungkap Herman.
Terakhir, Fauzi menegaskan harapannya untuk pemerintah dan kepolisian atas kejadian ini adalah untuk mereformasi anggotanya dalam kinerja menangani warga sipil. Menurutnya baik pemerintah maupun aparat untuk tidak semena mena terhadap rakyat kecil.
“Sebernanaya polisi ini pelayan rakyat atau pelayan pejabat, kenapa yang dipukul keras (selalu) warga sipil,” tambah tegas Fauzi tatkala diwawancara.
Pukul 18.00 massa aksi mulai perlahan meninggalkan Alun-alun Merdeka kota Malang setelah melakukan aksi simbolik 1000 lilin untuk mengenang Affan.
Editor: Moch. Fahmi Alfarizi





