Tanggal Kau Tinggal Aku

The Oxbow karya Thomas Cole

Aku mengutuk air

Air mata. Juga takdir.

Amat kuingat betul; nuansa hangat rumah di sela air mata hujan,

Sebab telur ceplok buatan Bunda dengan campur tangan cinta

Aku menghirup, aku mengharap, aku menghuruf—

“Tinggal lebih lama.”

Konon, hujan menyimpan iri

Bersekutu dengan setan penebang hutan

Hingga bersumpahlah hujan menjadi atheis

Karena tuhannya [hutan] dibunuh sadis.

Terjadilah malam-malam insomnia

Saat banjir terus menggerus.

Tak mengizinkan jeda air mata.

Supaya bisa kutandas sisa telur entah ke mana.

Ketika pagi dinyalakan.

Para hidup berebut seonggok matahari—

karena terlihat seperti telur ceplok Bunda.

Aku mengutuk air. Air mata.

Di luar—semua lebih tepat disebut luar.

Kulihat malaikat terbirit, dikejar doa-doa yang terburu-buru

Meminta satu persatu harapan terjerat

Saat tak ada lagi kenyang dan lelap.

Menjelang para hidup sekarat.

Sempatlah mereka mengintip warta

Deretan angka buruk mengisinya

Tidak menunggu lama, beberapa sekarat menyumbangkan namanya.

Bunda, aku mengutuk air.

Karenanya tak kutemukan jasadmu yang mulia.

Tak berbentuk darah tak juga belulang

Apalagi nisan untuk kuziarahi.

Seiring berjalan lama.

Laraku belum sembuh, tanahku belum tumbuh.

Bersama nestapa, mimpi buruk nyata.

Izinkan aku tanggal dari takdir ini.

Bunda, ternyata Dia memilih doaku.

Membiar kau tinggal lebih lama di tanah ini

Meski tanpa napas—jasad.

Takdirmu meninggalkanku.

Dan aku. Jauh meninggalkanmu.

Dengan itu.

Aku mengutuk air.

Air mata. Juga takdir.

Penulis: Siti Dewi (Magang Siar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru