Aku ingin menggambar hujan.
Hujan yang tidak tau siapa ibunya,
dan langit tak selalu mentantrumkan kepulangannya.
Aku ingin menggambar hujan.
Di arus media utama,
hujan didandani estetika:
filter biru, caption sendu,
Lengkap dengan tembang dari payung teduh yang tak pernah menyelamatkan basah.
Aku tidak tau,
siapa yang berminat menggambar wajah tunawisma kehujanan,
pedagang es teh jumbo yang pulang dengan laba mini
Atau seekor kucing yang lupa membawa mantel
Aku tak tau
Yang kutau sekarang
Aku ingin menggambar hujan.
——————————————
Kertas ini makin basah.
Setiap garis kebanjiran.
dinding-dinding rumah saling menahan nafas
Air mencuci dosa kota,
Tak sempat untuk berdialektika
Fenomena-fenomena itu tak beraturan-begitulah gambar hujanku,
ratap
tanpa
nirmana
Tapi dibawahnya
Kuselipkan gambar anak kecil
berlari tanpa payung,
Tertawanya bebas hahahehe
belum tahu cara dikorupsi.
“Jangan tutup jendela!
Jangan tutup jendela!
Ayo kita mencari one piece!!!“
…………………………………………
Gambar hujan hampir rampung
Kertas ini makin sobek.
Pensilku patah dua kali.
Tapi tak apa
setiap patah adalah arah,
setiap basah adalah sejarah
Aku telah menggambar hujan.
Hujan yang berisik,
menolak dirayakan
Tak mau disyairkan
Aku menggambar hujan,
yang bergerak dari bawah
mendebat segala stigma dan norma
Sebuah Hujan,
yang membakar habis hujan





